The Music of Mine

The Music of Mine

Jumat, 16 November 2012

100%

Jendulan di kepalaku sudah tak terasa sakit lagi..
Itu karena aku sudah mulai terbiasa dengan setiap sakit yang kurasa ..
Aku merasa bahwa aku adalah seorang yang telah biasa menerima rasa pahit,
pahit nya kisah cinta yang tak kunjung berakhir.

"Bila kau  memang miliki hatiku, harusnya kau jaga dengan baik, bukan?"

Pertanyaan yang seharusnya ada di benakmu, bukan benakku.
Katamu, ketika mencintai seseorang, kau hanya perlu menyisihkan  30-45% cintamu padanya.

Tapi menurutku, aku telah menyayangimu sepenuh hatiku, 100% cinta di hatiku.


------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

100% rasa di hatiku
telah semua kubagi rata
10% kepada  ortuku
sisanya hanya untukmu

namun kini kusadari,
hanya sepi yang kudapat darimu
maafkan aku..

100% rasa dihatiku
kurasa belum cukup kubagi untukmu
100% rasa dihatiku
hanya cinta yang ku perlu

100% rasa di hatiku!!!!!!!

Melepaskan Semua

Sebuah alunan harmoni, yang menyambar pedihnya hati dalam nada penuh kerinduan.

Perbedaan yang ada di antara kita
Menjadikan sebuah kesatuan indah
Merajut hari-hari dengan kasih
Berujung di sebuah melodi rintih

Dalam suka dan duka di hari kita
Menjadikan kenangan hitam dan putih
Berawal dari sebuah ketidaktahuan
Berakhir dalam kata, kata perpisahan

Reff:
Tertulis dengan seribu kisah kita
Basahi hati ini dengan kepedihan
Hanya harap dan doa yang satukan kita
Menangis dalam senyum
Senyum dalam tangis

Melepaskan semua kata bahagia......
Bersama..

Tercipta bersama Yescry Lenterania Yodana,
Terhias oleh hangatnya alunan melodi.

Kamis, 02 Februari 2012

Matematika, Galau, Insiden Penuh Tanda Tanya

Hari Kamis 2 Februari 2011.. Kamis itu tak layaknya kamis biasanya. Kamisku kali ini terpenuhi oleh beribu tanda tanya yang belum kutemukan jawabnya. Bahkan, aku merasa aku bukanlah "aku". Aku merasakan cara hidupku tidaklah seperti yang dulu. Kenapa ? Aku tak tahu kenapa.. aku ragu kenapa aku begini.
Sekarung pikiran itu bermula ketika pelajaran Matematika seperti biasa di sekolah kristen swasta yang memang aku duduki. Pelajaran pada walnya berjalan seperti biasa. Tak terlalu tegang, tak terlalu santai. Ya! itu memang atmosfer yang kerap terasa setiap pelajaran PakDhe, guru matematika sekolahku. dengan tingkah kocak Beliau, kami sekelas mampu tertawa terbahak-bahak. Namun, bersama beliau pula bulu kuduk ini dapat berdiri ketakutan. Dan, dengan beliau pula, tanda tanya mampu muncul seketika di benak ini. Kejadian itu yang menimpaku. Kurang beberapa menit pelajaran selesai, tiba-tiba Pakdhe datang perlahan menuju bangkuku yang ada di bagian belakang kelas. Setibanya, Beliau tiba-tiba saja menyentuh punggung saya. Berkisar 5 detik, Beliau bereaksi heran. "Lho?" ungkap beliau. Serempak, sadar tak sadar wajah beliau sudah ada dalam pandangan saya. Tanda tanya pertama seolah muncul dalam pikiran. Beberapa saat, bapak berkulit sawo matang itu bertanya kepadaku, "mas, kamu lagi galau, ya? Jangan bohong.."tanya beliau dengan aksen bataknya. Tak ada jawaban selain "ya" yang terlontar dari bibirku. Bagaimana bisa seorang bapak yang berprofesi menjadi guru matematika mampu mengetahui bahwa aku galau hanya dengan meletakan tangannya di punggung ku? Tanda tanya kedua yang jauh lebih besar muncul. "Padahal, aku bersikap begitu biasa. Energik, sedikit lebay, agak ke gaul-gaulan. Tapi mengapa bisa ?! pakdhe tahu apa isi hatiku.." kata hatiku keheranan. Setelah dialog yes-no question dengan beliau tadi, Beliau pergi kembali ke meja guru. Tak sempat selesai berpikir apa yang sebenarnya terjadi, bel usai pelajaran berbunyi. Dan kalau tadi beliau yang menghampiriku, sekarang ia memanggilku. Aku datang segera. Dan ia menggeret aku menyandar papan tulis dan berkata, "Fokus! Fokus ke Pakdhe! Fokus ke Pakdhe!!" Mata saya yang awalnya tak berarah menjadi terarah pada satu tatapan, yakni mata Beliau. "Jangan berpikir hal-hal yang aneh. Pakdhe tahu apa yang kamu pikirkan. Dan itu tak perlu Pakdhe katakan." ujar beliau sebelum meninggalkan ruang kelas. Dan, dialog terakhir tadi memberi saya tanda tanya ketiga yang jaaaauh lebih besar dan berkali-kali lipat besarnya. Dan, sampai sekarang saya belum mengerti dan belum paham apa arti dan makna dari perkataan beliau. Itulah mengapa, saya seperti tak mengenal diri saya sendiri. Aku kehilangan cermin, di mana merupakan skala ukur diriku. Dan aku tak sengaja menghilangkannya.
Apa ? Mengapa ? Di mana ? Bagaimana ?